Sifat shalat nabi

sifatsholatnabi

Dilema seorang ibu
Udah seminggu gw selalu bangun pagi dengan kepala pusing.Kalo dipikir – pikir, gw sekarang lebih sering bobo di bawah jam 10, tapi tetep aja pas bangun ni kepala senut2 gak karuan.

Gw sebenernya tau penyebab kepala gw selalu pusing akhir2 ini. Kalo masalah keuangan sih udah biasa gw pikirin, ampe ni otak udah kebal buat ngatur utang (bukan duit). Tapi masalah yang satu ini istilah ngawurnya worther than money.

Kepusingan gw ini, diawali dengan kegembiraan luar biasa ketika membaca invitation dari KNUA Korea untuk dosen seni UNJ yang berstatus pegawai negeri sipil (termasuk di antaranya gw) mengenai beasiswa master di Korea, full scholarship, bener2 free of charge.

Beasiswa ini menawarkan study master untuk craft (bidang GW!) selama 2 tahun gratis, berangkat september 2007, namun tidak boleh membawa anggota keluarga,kecuali dengan biaya sendiri.

Hari pertama, gw merasa sangat lucky dan antusias, gw heboh tanya sana sini untuk dapetin beasiswa tersebut. Kata temen2 gw yang single

” Udah na ambil aja… gilee kapan lagi ada yang segampang dan secepet ini! gw aja udah apply 5 kali gak tembus2″

tapi kata temen2 gw yang ibu2 :

” Mbak Nana inget lo, jangan grusa grusu, mbak nana kan punya anak, punya suami, kalo menurut saya kok mbak nana mending ambil master di UI aja pakai beasiswa UNJ atau beasiswa BPPS…”

Dalam hati gw mikir :

” Ni ibu2 resek banget, gak ngertiin tren jaman sekarang, sekolah harus setinggi mungkin, harus dapet banyak pengalaman, masak gw sekolah di Indonesia lagiiii… addduuuuhh. Soal anak ama suami mah gampannnnggggggggggggg”

Anak dan suami bisa ditinggal sementara.

Ntar Jarot (Suami gw) bisa nyusul taun depan kalo gw punya uang lebih

then…

Gw sibuk mendownload formulir2 yang diperlukan, plus mempersiapkan arsip2 yang mereka butuhin, ijazah s1,transkrip nilai,cv, piagam2 penghargaan…..

Tiba2 gw keinget satu hal. ” Keluarga”. gw inget kata ibu2 itu…

……… Oh my God, gw SOK lupa bahwa gw sekarang punya anak umur sebelas bulan yang masih minum ASI, gw juga lupa bahwa gw punya suami yang baru aja pindah kerja, baru aja bersenang2 dan bersusah2 ngerintis karirnya di sebuah perusahaan kecil pinggir kali, sebagai manajer kreatif. Gw lupa bahwa gw punya tugas untuk bayar cicilan mobil keluarga kami yang masih 22 bulan lagi. Gw lupa bahwa gw harus bantuin suami gw bayar cicilan rumah selama 8 tahun 10 bulan lagi. Gw lupa bahwa gw harus ngurus bisnis kecil gw yang punya 9 pegawai yang udah gw anggep keluarga gw sendiri.

Kalo gw berangkat berarti anak gw putus ASI, harus dititipin ke mertua gw ato nyokap gw (karena suami gw pulang kantor di atas jam 8 malam,dan sabtu jg ngantor), mungkin gw harus jual salah satu (rumah ato mobil) karena suami gw cuman bisa afford salah satu dengan gajinya. Dan yang paling parah, gw harus nutup bisnis gw, memPHK ke sembilan pegawai workshop gw, padahal gw tau banget bahwa mereka butuh kerjaan.

that’s too much….

too much risk

too much pain

Suddenly kakak gw yang lagi sekolah s3 di Inggris telpon gw….

pas banget. gw lagi bingung

” Nana, kowe pikir2 lagi deh kalo mau sekolah di luar negeri, orang liat sih memang keren, tapi di sini tu nggak enak. Paling gak enak kalo kamu berangkat dengan ninggalin orang2 yang kamu sayangin. Kamu ninggalin anakmu di Indonesia selama 2 tahun, pulang2 anakmu udah gede. Itu sama sekali gak bisa diganti. Gak akan pernah bisa diganti. Aku udah ngalamin, aku udah ngerasain. GAK ENAK BANGET, gak worth it” .

Seharian gw diem gak ngapa2ngapain, gak nyiapin dokumen lagi, gak makan, gak ngurusin dagangan, gak megang kalkulator(ni alat favorit gw), gak ngurusin anak gw. Gw cuman nonton fashion tv dan kadang2 mindah saluran ke v -channel. tapi tetep aja blank.

Sedih sih pasti, tapi kayaknya lebih sedih lagi kalo gw maksain buat daftar dan berangkat. it will hurts everybody…..

Jesse will forget me and he could not forgive me someday.

Gw coba buka lagi visi gw ke depan (gw hobi banget nulis2 planning dan visi gw ke depan di atas selembar kertas)

setelah punya jesse, gw dan suami punya rancangan hidup jangka pendek dan jangka panjang.

Rencana jangka pendek gw adalah : pada umur 30 tahun rumah kami harus sudah lunas, punya 2 mobil berumur kurang dari 5 tahun, sudah lunas 22nya, serta punya 2 motor untuk transportasi jarak dekat.

Setelah umur 30, kami tidak punya hutang sama sekali, pendapatan kami dipakai untukmembangun rumah kost, rumah kontrakan,bikin warteg dan beli ruko.

Semuanya realistis karena kami berdua bekerja penuh semangat dan Alhamdulillah sampai saat ini semua cicilan masih teratasi. Kpr rumah akan dipidah jadi 5 tahun, berarti umur 30, rumah sudah lunas. Mobil 2 tahun lagi lunas (InsyaAllah habis itu ambil 1 lagi).Motor udah ada 1, berarti tinggal 1 lagi…

Rencana jangka panjang gw pengen pensiun dengan tenang dan ninggalin banyak bidang usaha untuk anak gw kalo suatu hari kami berdua udah dipanggil ama yang di atas.

Tapi kalau gw pergi sekolah lagi…………………

Wah berantakaaaaaannn semua…

terutama rencana jangka pendek gw yang akan sangat mendukung rencana jangka panjang gw.

hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhrrrrrrrr…..

Gw pernah baca di sebuah buku, wanita emang lebih complicated di banding pria. secara sosial, wanita memiliki hubungan emosional mendalam terhadap orang2 di sekitarnya, wanita juga sangat manusiawi dan holistik dalam memandang sebuah masalah. Seorang wanita dapat dengan mudah menghapus ambisi dan egonya ketika ia dibutuhkan keluarganya.

bener banget.

dan itu terjadi pada gw.

I love my family, more than anything in the world

even my dream

Anak gw sekarang udah bisa ngomong dikit2 meski umurnya baru sebelas bulan,

dan gw inget, kmarin dia ngomong :” Mamam tacang……”

it means …”Mama sayang….”

I love you too jesse, my son …………..

Gw yakin kalo besok pagi kepala gw udah ga pusing lagi.

bener kata kakak gw ” GAK WORTH IT, NA…”

jesse :

“Mamam tacang…..”

Nana :

” Mamam tacang is here,Hunny…….always beside you…”

 

Berjalan dengan keong

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat, keong sudah berusaha keras merangkak. Setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.
Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : “aku sudah berusaha dengan segenap tenaga !”
Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan.
Ya Tuhan! Mengapa ? Langit sunyi-senyap. Biarkan saja keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati….

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut.
Ada lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing.
Aku lihat langit penuh bintang cemerlang.
Oh? Mengapa dulu tidak rasakan semua ini ?
Barulah aku teringat, Mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalo aku berjalan sendiri dengan cepatnya.
“He’s here and with me for a reason”
Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi,
Haruslah berusaha memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu.
Karena ketika dia telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya.
Karena seumur hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.
Saat bertemu penolongmu,
Ingat untuk bersyukur padanya.
Karena ialah yang mengubah hidupmu

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai,
Ingatlah dengan tersenyum untuk berterima-kasih .
Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci,
Sapalah dengan tersenyum.
Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu,Baik-baiklah berbincanglah dengannya.
Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai,
Berkatilah dia.
Karena saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia ?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu,
Berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu.
Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu,
Gunakan saat tersebut untuk menjelaskannaya.
Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup,
Berterima-kasihlah sepenuhnya bahwa ia mencintaimu.
Karena saat ini kalian mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati..

 

 

 

Berteriak..

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang
meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat
peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya. Semuanya
tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil
terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut
hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada
yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang
menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak
pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang
pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya
pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap
terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak
Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar
dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam
komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru akan menyebutkan nama mereka, dan
mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut
berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah
nama. Ahha…ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara.
Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…”, begitu
ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak
bangga. Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap
ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya
kepada sang “jagoan, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya.
Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya,
sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak
heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” tanya Pak Guru, “Coba kamu
ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..”.

Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus
berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar
berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah
sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah
seperti Ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai
melanjutkan, “..Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini,
adalah peran yang mudah buat saya…”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua
orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya
mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai
terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu
diluruskan dalam perilaku mereka.

***
Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah
peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan
belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak
dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita,
tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air
telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan
perilaku yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun
tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu
juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga
pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa,
memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran
yang buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, “berteriaklah kepada anak-anak
kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah. Bermuka
ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang
pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah,
maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki…”

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh
apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita
tampilkan? Teman, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang
yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat
kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka
meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak
menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap menjadi orang yang
ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri. Sebab,
bukankah mereka baru “belajar” memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun,
sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun? Tentu mereka akan butuh
waktu untuk bisa seperti kita.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s