UN dan Runtuhnya Pendikar Bangsa

UJIAN NASIONAL DAN RUNTUHNYA  KARAKTER BANGSA

Oleh:  Muhamad Nurissalam, S.Si

Pemerhati Pendidikan Kota Metro

 

Ujian Nasional yang dilaksanakan setiap tahun terus mengalami beberapa perbaikan dan kemajuan.  Ujian Nasional pertama dilakukan dengan satu paket soal, kemudian menjadi dua paket, dan dua tahun ini dengan lima paket soal yang berbeda dengan bobot soal yang sama.  Ini menarik untuk dibahas karena perbaikan perbaikan itu mengarah kepada satu hal yaitu pelaksanaan ujian nasional yang bersih dari kecurangan kecurangan.   Diimbangi pula dengan adanya pengawasan dari eksternal dinas terkait, seperti adanya tim independen dari mahasiswa kemudian  dosen sebagai pihak perguruan tinggi di daerah setempat pun di turunkan, bahkan aparat kepolisan selalu mengawasi pelaksanaan ujian nasional baik pada pendistribusian soal, pelaksanaan hingga pengawalan lembar jawaban sampai di propinsi setempat.

Hal menarik dari pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini adalah  sesuai Prosedur Operasional standar  (POS) UN 2012 adanya pernyataan integritas kejujuran dalam pelaksanaan UN baik peyelenggara, pelaksana, pengawas ruang, maupun peserta UN.  Hal kedua adalah adanya pengacakan paket soal untuk tiap ruang/sekolah  yang berbeda  yang didapat peserta ujian untuk tiap mata pelajaran yang di ujikan.

Tetapi indikasi kecurangan kecurangan masih saja ada. Mengapa begitu hebatnya kecurangan kecurangan masal terjadi.  Ada beberapa hal yang menjadikan penyebab terjadinya kecurangan

1.  Adanya target kelulusan peserta didik tiap jenjangnya terhadap satu mata pelajaran atau  rata rata   semua pelajaran yang di UN kan.  Hal positif dari target ini jelas yaitu ingin terukurnya kualitas lulusan sekolah di Indonesia  dari tahun ke tahun yang diharapkan mengalami peningkatan.  Ini sangat baik demi kemajuan dunia pendidikan Indonesia, tetapi apabila pelaksanaan ujian yang penuh kecurangan akan menghasilkan  alat ukur yang tidak valid,  alat ukur yang tidak valid justru menjadi racun bagi bangsa ini sehingga pemerintah sebagai penentu kebijakan justru akan salah mengambil kebijakan karena data data yang dihasilkan ”abu-abu”. Masyarakat pun tidak percaya dengan hasil nilai nilai UN yang ada.  Lebih parahnya lagi apabila nilai UN ini dijadikan alat ukur untuk masuk pada jenjang pendidikan di atasnya, semisal SD ke SMP atau SLTP ke SLTA , bahkan wacana yang berkembang apabila pelaksanaan UN tahun ini sukses di jadikan dasar pengambilan kebijakan untuk meniadakan SNMPTN.

2.  Adanya ketegangan yang berlebih saat pelaksanaan UN,  dengan adanya sistem pengawas silang, adanya pengawasan dari perguruan tinggi, adanya aparat kepolisian lengkap dengan senjata, sidak dan pantauan dari pemerintah daerah atau dari perguruan tinggi, dan tidak hanya itu guru yang di beri tugas untuk pengawas ruang juga penuh ketegangan, sampai sampai sekolah dan  siswa melakukan doa doa bersama, solat bersama supaya lulus UN.  Ini satu indikator begitu mengerikannya  Ujian Nasional di mata peserta didik sehingga mereka berupaya untuk mencari cara yang aman untuk lulus UN apapun cara dan resikonya.  Begitu pula sekolah penyelenggara.  Sekolah tidak mau adanya ekses dari ketidaklulusan siswanya,  sekolah ingin punya pencitraan yang baik dari dinas maupun masyarakat karena jika peserta didik banyak yang tidak lulus akan berdampat tidak baik pada sekolah itu apalagi sekolah swasta yang akan banyak ditinggalkan masyarakat.

3.  Teladan guru yang  tidak baik.  Guru adalah di gugu dan di tiru.  Kalimat tersebut sudah sangat ironis di masa kini.  Guru yang mengajak muridnya untuk berlaku jujur eh malah sang guru pula yang mengajarkan muridnya untuk berbuat curang,  sang guru menegakkan aturan tidak boleh menggunakan ponsel pada saat pembelajaran di kelas eh malah sang guru yang menyuruh muridnya untuk membawa ponsel ke ruang ujian. Sang guru mengajarkan pada muridnya untuk takut dengan Tuhan tapi malah bersama sama muridnya untuk mengkhianati ajaran Tuhannya. Kalo dengan Neraka saja sudah tidak takut apalagi hanya selembar kertas pernyataan tentang kejujuran.

Ada yang harus diperbaiki hari ini supaya ”sang ibu pertiwi ” tidak menangis sedih.

  1. Lepaskan peserta didik dari nilai terkecil dan rata rata  nilai UN.   Berikan kesempatan sekolah untuk  ”menghakimi”  peserta didiknya.  Hal ini memperkecil kecurang UN karena nilai berapapun kelulusan siswa ditentukan oleh sekolah termasuk memperkecil kecurangan  terhadap nilai raport dan hasil ujian sekolah.  Biarkan rakyat yang menilai sekolah mana yang memberikan kelulusan yang  bernilai.  Kemudian seberapa pun hasil UN dijadikan evaluasi bersama baik sekolah, dinas terkait dan pemerintah tentunya,
  2. Meminimalkan kebocoran soal UN.  Dengan sistem yang dilaksanakan sekarang sangat kecil kemungkinan soal bocor pada jam dimana ujian pelajaran tertentu di laksanakan, bahkan dua hari sebelum ujian seluruh kunci jawaban mata pelajaran sudah berdar,  Sebagai perumpamaan kita membuat kolam ikan dan supaya ikan tidak lepas dari kolam maka dibuatlah dinding dinding kolam dari beton berlapis dan tinggi, namus sehebat apapun kita membuat pagar pagarnya kalo ada satu lubang saja yang bocor maka sia sialah pagar pagar beton tersebut karena dengan mudah sang ikan keluar dari lubang tadi, karena ikan tidak akan kuat menjebul beton beton tadi, tapi kerena ada lubang satu saja dengan leluasa ikan akan keluar.

Dan kalaupun sulit mengendalikan kebocoran dapat diminimalkan gerakan peredaran kunci adalah dengan mengacak tiap ruang tiap sekolah tiap kabupaten propinsi terhadap paket soal tidak Cuma lima paket bahkan kalo perlu 99 paket diacak  pada satu sekolah, satu kabupaten dan tiap pelajaran selalu berubah.  Sedikit kerja ekstra pada pengepakan soal tapi ini bisa meminimalkan kecurangan,  siswa punya peluang 99 paket dan sangat sulit sekali siswa membawa kunci jawaban sebanyak 99 paket dalam layar ponsel atau tulisan di kertas dan setiap pelajaran siswa tidak tahu paket berapa yang di dapatkan  karena setiap ruang terdapat petunjuk denah soal. Sehingga bisa saja terjadi satu  ruang 20 soal beda atau bahkan tiap ruang pada tiap sekolah berbeda pula dengan bobot soal yang sama.

Memang perlu dana besar untuk itu tapi daripada mendapatkan  hasil data nilai tidak valid karena kecurangan maka dengan teknik demikian bisa meminimalisir kecurangan.

  1. Lepaskan belenggu sekolah dari kepentingan kepentingan politik dan golongan.  Sekolah yang nilai UN kecil atau kelulusan rendah adalah sekolah yang akan tersingkir, kepala sekolah juga takut kesingkir dan sebagainya sehingga dari pihak pimpinan di atasnya harus benar benar tegas dan berani untuk mengatakan prestasi yes, jujur yes.

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010 yang mengamanatkan program penguatan metodologi dan kurikulum dengan cara menyempurnakan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.

Implementasi kebijakan ini adalah bagaimana mengintegrasikan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam Pendidikan

Nilai karakter bangsa yang dimaksud diantarannya adalah niai religius dan kejujuran yang menjadi pondasi pada seluruh aspek karakter bangsa itu sendiri.  Nilai kejujuran  yang di tanamkan dari kecil, saat di bangku sekolah diharapkan kelak akan melekat pada bangsa kita ketika anak bangsa menjadi pemimpin pemimpin negeri.  Dalih menolong siswa untuk lulus dari ujian kemudian bisa melanjutkan pada jenjang lebih tinggi dan mengantarkan anak bangsa menuju cita cita sungguh tidak dapat di terima karena kita melakukan kebaikan kebaikan dengan cara yang tidak baik.  Apabila kita menumbuhkan generasi generasi bangsa dari cara yang religius dan jujur sejak dini maka besar harapan kita akan mendapatkan generasi generasi bangsa yang berkarakter yang membawa bangsa kita menuju harapan lebih baik, melahirkan pemerintah yang tidak korupsi dan menekan angka kebrutalan kebrutalan masyarakat seperti penjarahan, penganiayaan, pengerusakan bahkan pengkhianatan terhadap NKRI.  Benih yang baik akan menghasilkan tanaman tanaman baik dan tanaman baik akan berbuah baik,

PRESTASI YES,  JUJUR HARUS tidak hanya menjadi suatu slogan Ujian Nasional, tetapi lebih didepankan pada pengakuan diri terhadap karakter bangsa kita yang diwujudkan dengan perbuatan bukan hanya slogan slogan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s